Tugas
Terstruktur Dosen
pengampu
Ulumul Qur’an Drs.H.Abdul Basyir, M.Ag
ILMU NUZUL QUR’AN
TAHAP WAKTU dan CARA TURUNNYA
WAHYU
![]() |
Di
Susun Oleh :
KELOMPOK :XI
Normina
(1301251008)
Nurmiati
( 1301251012 )
Rahmi
Anggia ( 1301251016 )
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGRI ANTASARI
FAKULTAS
TARBIYAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
BANJARMASIN
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Al-Qur’an
adalah kitab suci agama Islam yang diturunkan untuk memberi petunjuk kepada
semua umat manusia. Permulaan turunnnya Al-Qur’an bertepatan pada malam 17
Ramadhan atau yang biasa disebut dengan malam Nuzulul Al-Qur’an. Dimana malam
tersebut adalah malam yang sangat mulia dan penuh berkah. Al-Qur’an diturunkan
secara berangsur-angsur sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi pada
masa itu.
Dalam
proses terbentuknya Al-Qur’an, sangat banyak tahap-tahap waktu dan cara-cara
turunnya wahyu yang harus dilalui. Sehingga membutuhkan waktu sekitar 22 tahun
2 bulan 22 hari. Sebagai seorang Muslim dan Muslimah, kita harus mengetahui
proses turunnya Al-Qur’an, terutama tahap-tahap dan cara-cara turunnya wahyu
tersebut sehingga terbentuknya kitab suci Al-Qur’an yang mulia ini.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa
yang dimaksud dengan Nuzul Al-Qur’an dan apa saja proses-proses yang terjadi
didalamnya ?
2. Bagaimana
tahapan-tahapan waktu dan cara-cara
turunnya wahyu sehingga terbentuknya Al-Qur’an ?
C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk
mengetahui makna dari Nuzul Al-Qur’an.
2. Untuk
mengetahui proses-proses yang terjadi pada Nuzul Al-Qur’an.
3. Untuk
mengetahui tahapan-tahapan waktu dan cara turunnya wahyu.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Nuzul Al-Qur’an
1.
Pengertian
Nuzul Al-Qur’an
Nuzulul
Qur’an terdiri dari dua kata: Nuzul (turun) dan Al-Qur’an. Dalam bahasa
Indonesia diterjemahkan dengan arti “Turunnya Al-Quran”. Namun dalam memahaminya
tidak sesederhana arti terjemahannya, supaya tidak terjadi pemahaman yang
keliru. Misalnya anggapan bahwa turunnya Al-Qur’an itu sama dengan turunnya benda-benda
yang mempunyai berat jenis tertentu dari atas ke bawah.
Syaikh
Abdul Azhim Az-Zarqani dalam kitabnya, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an,
berkata: ‘sebagai kata, memang kata nuzul berarti pindahnya sesuatu dari atas
ke bawah. Terkandung dalam makna nuzul tersebut bergeraknya sesuatu dari arah
atas ke bawah. Namun pengertian nuzul tersebut tidak patut diberikan untuk
maksud Nuzulul Qur’an. Al-Qur’an bukanlah suatu benda yang memerlukan tempat
pindah dari atas ke bawah dalam arti haqiqi, lantaran Al-Qur’an mengandung
kei’jazan (kekuatan yang melemahkan)’.
Menurut
Az-Zarqani, penggunaan kata Nuzul dalam hal Nuzulul Qur’an dimaksudkan dalam
pengertian secara majazi. Artinya sebagai suatu ungkapan yang tidak dipahami
secara harfiah. Pengertian majazi bagi Nuzulul Qur’an adalah pemberitahuan
mengenai Al-Qur’an dalam segala aspeknya.[1]
2. Turunnya
Al-Qur’an
Allah
pertama kali menurunkan Al-Qur’an pada malam senin tangal 17 Ramadhan pada
tahun ke 41 dari kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang bertepatan dengan tanggal 6
Agustus 610 M.[2]
Ketetapan
tanggal 17 Ramadhan sebagai tanggal mulai diturunkannya Al-Qur’an tidak
terdapat secara tegas di dalam Al-Qur’an, namun ayat-ayat yang mengisyaratkan
kepada tanggal tersebut dapat dijumpai disurah, Al-Anfal ayat 41:
Artinya:
“Jika kamu beriman kepada Allah dan kpada
apa yang kami turunkan kepada hamba kami (Muhammad) hari Furqan, yaitu pada
hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu.”(
QS. Al-Anfal: 41)
Yang
dimaksud dengan yaum al-furqan pada ayat
tersebut adalah hari permulaan turunnya Al-Qur’an. Disebut demikian, karena kitab
suci tersebut berisi ajaran dan tuntunan hidup yang memisahkan antara yang
benar danyang salah atau antara yang haq dan yang bathil. Adapun yang dimaksud
dengan yaum iltaqa al-jam’an (hari bertemunya dua pasukan) ialah hari
bertemunya dua pasukan yaitu pasukan kaum Muslim dan pasukan kaum musyrik
Quraisy pada peperangan Badr. Mengingat peperangan Badr terjadi pada 17
Ramadhan, maka dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an juga diturunkan pada 17
Ramadhan pula.[3]
Adapun
tentang diturunkannya Al-Qur’an pada bulan Ramadhan, adalah berdasarkan nash
yang jelas yang terdapat dalam kitab Allah Azza wa Jalla, dimana Ia berfirman:
Artinya
: “Bulan Ramdhan, bulan yang didalamnya
diturunkan ( permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan
yang bathil.”( QS. Al-Baqarah:183)[4]
Sedangkan Malaikat yang turun
membawa Al-Qur’an adalah Jibril AS. Sebagaimana telah ditetapkan pula dengan
nash shoheh yang terdapat dalam Al-Qur’an, dimana Allah berfirman:
Artinya:
“ Dia ( Al-Qur’an) dibawa turun oleh
Ar-Ruh Al-Amin (Jibril0 kedalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah
seoragng diantara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa arab yang
jelas.”(QS. Asy-Syu’ara: 193-195)
Dan firman Nya:
Artinya: “ katakanlah :” Ruhul Quddus (Jibril)
menurunkan Al-Qur’an dari tuhan mu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang
yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta khabar gembira bagi orang-orang
yang berserah diri kepada Allah.” (QS. An-Nahl:102)
Yang dimaksud dengan Ar-Ruhul Amin
atau Ar-Ruh Al-Quddus ialah Jibril as. Berdasarkan sepakat ahli tafsir, dimana
dia adalah yang diberi kepercayaan oleh Allah untuk mewahyukan Al-Qur’an kepada
Rosulullah saw. Dan dialah yang menyampaikan wahyu kepada segenap para Nabi dan
Rosul (sebelum Muhammad s.a.w).[5]
3.
Wahyu
Pertama di Turunkan
Iman
As-Suyuti dalam kitab Al-Itqan mencatat beberapa pendapat tentang ayat yang
pertama kali turun. Ada yang mengatakan “Basmalah”,
ada yang mengatakan “Al-Fatihah”,
namun yang paling shahih ialah surah
Al-Alaq : 1-5.[6]
Pendapat
yang pertama, mengatakan bahwa yang pertama kali diturunkan dari Al-Qur’an
adala “Bismillahirrahmaanirrahiim”.
Imam
Al-Wahidi mengeluarkan sebuah riwayat dengan sanadnya dari Ikrimah dan Hasan,
keduanya berkata, “Pertama kali yang diturunkan dari Al-Qur’an adalah “Bismillaahirrahmaanirrahim”
dan awal surah “Iqra bismi rabbik”.
Ibnu
Jarir ath-Thabari dan lainnya juga mengeluarkan sebuah riwayat melalui
adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas ra, ia berkata, “Pertama kali yang dibawa turun
oleh Jibril as. Kepada Nabi Muhammad saw. Adalah perkataan Jibril ‘Ya Muhammad
!, mohonlah perlindungan ( kepada Allah ), kemudian katakan ‘Bismillahirrahmaanirrahim’.”
Menurut
Imam Sayuti : sesungguhnya pada dasarnya ini tidak dianggap pendapat, karena
sudah barang tentukonsekuensinya turunnya suatu surah adalah turunnya ‘basmalah’ bersama surah itu, maka ia
merupakan ayat yang pertama kali turun secara mutlak.[7]
Selain
pendapat tersebut, ada pula pendapat lain yang menyatakan bahwa surah
Al-Fatihahlah sebenarnya yang pertama kali diturunkan. Syaikh Muhammad Abduh
menguatkan pendapat tersebut dengan tiga alasan. Pertama, surah Al-Fatihah
terletak pad permulaan Al-Qur’an. Kedua, seluruh isi surah Al-Qur’an tersimpul
dalam surah Al-Fatihah. Ketiga, menurut riwayat yang diceritakan kembali oleh
Al-Baihaqi dalam Dalail Nubuwah,
ternyata surah Al-Fatihah pula yang disebut sebagai yang pertama kali
diturunkan.[8]
Sedangkan,
menurut pendapat yang terkuat dan riwayat yang sahih, firman Allah yang pertama
kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw adalah firman-Nya di surah Al-Alaq :
1-5 :
Artinya
: “Bacalah dengan ( menyebut ) nama
Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan
perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum pernah ia
ketahui.” (QS. Al-Alaq :1-5)
Ayat tersebut diturunkan ketika Nabi
Muhammad saw sedang menyendiri dan beribadah
di sebuah gua yang bernama Gua Hira yang terdapat di Jabal Nur,
kira-kira tiga mil dari Mekah. Menurut Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah ra.
Bahwa Nabi Muhammad saw sering mengunjungi Gua Hira ini dan menyendiri serta
beribadah disana selama beberapa malam. Untuk lancarnya kegiatan beliau, beliau
selalu membawa bekal. Apabila bekal tersebut habis, beliau kembali kepada
Khadijah, yang kemudian memberikan bekal lagi seperti biasa. Pada suatu waktu
ketika beliau sedang berada di Gua Hira tersebut, tiba-tiba Jibril datang dan
berkata kepada beliau, “Bacalah, hai
Muhammad.” Nabi menjawab, “Aku tidak
bisa membaca.” Nabi kemudian menceritakan bahwa malaikat itu merangkul dan
memelukku sampai aku betul-betul keletihan, kemudian aku dilepaskannya dan ia
berkata lagi kepadaku,”Bacalah.” Aku
menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Aku direngkul dan dipeluknya lagi untuk kedua kalinya sampai aku merasa letih,
baru kemudian ia melepaskan aku dan berkata lagi kepadaku, “Bacalah”. Aku menjawab,”Aku tidak bisa membaca”. Aku dirangkul
dan dipeluknya lagi untuk ketiga kalinya, lalu dilepaskannya seraya berkata, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan
Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum pernah ia ketahui.” Setelah
itu Nabi kembali menemui Khadijah dengan hati yang takut dan gemetar.
Peristiwa bersejarah ini terjadi
pada malam Senin, tanggal 17 Ramadhan tahun ke 41 dari usia Nabi Muhammad saw
atau 13 tahun sebelum beliau berhijrah ke Madinah, bertepatan dengan bulan Juli
tahun 610 H.[9]
4.
Wahyu
Terakhir di Turunkan
Kebanyakan
ulama menetapkan bahwa hari penghabisan turunnya Al-Qur’an, ialah hari
Jum’at 9 Dzulhijjah tahun 10 H, atau
tahun 63 dari kelahiran Nabi Muhammad saw ( Maret 632 M ).
Pada
saat itu Nabi sedang berwukuf di padang Arafah dalam menyelenggarakan haji yang
terkenal dengan Haji Wada’. Kebanyakan ulama tafsir menetapkan bahwa sesudah
hari itu tak ada lagi Al-Qur’an diturunkan untuk menerangkan hukum dan Nabipun
hidup sesudahnya selama 81 malam saja lagi. Ahli tarikh menetapkan bahwa Nabi
kita hidup sesudahnya selama 3 bulan lebih kurang. Sebagaimana diketahui bahwa
Rasulullah wafat pada tanggal 12 Rabiul awal tahun 11 H, hari Senin = 7 Juni
632 M.[10]
Menurut
riwayat yang terkuat, ayat Al-Qur’an yang terakhir sekali diturunkan adalah
ayat ketiga dari surah Al-Maidah :
Artinya
: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan
untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadam, dan Aku relakan
Islam itu adalah agama untukmu.”
Menurut riwayat diatas, ayat
terakhir tersebut diturunkan ketika Nabi Muhammad saw bersama para sahabat
sedang wukuf di Arafah dalam rangka melaksanakan ibadah haji terakhir (haji wada ) pada hari Jum’at, tanggal 9
Zulhijjah tahun ke-10 H atau tahun ke-63 dari usia beliau. Delapan puluh satu
setelah malam itu, Nabi pun wafat.[11]
B. TAHAP WAKTU dan CARA TURUNNYA WAHYU
Wahyu
menurut arti aslinya yaitu isyarat yang cepat (al-isyarat al-syariah) yang dimasukkan kedalam hati seseorang (al-ilqa fi raw’i). Adapun yang
dimasukkan ke dalam hati itu tidak dalam bentuk verbal, tetapi berupa
pengertian yang bebas dari keraguan dan kesulitan serta bukan pula merupakan hasil
meditasi atau perenungan.[12]
Adapun
yang dimaksud dengan wahyu menurut terminologi syar’i, para ulama berbeda
pendapat dalam merumuskannya. Definisi yang terpanjang menyatakan bahwa wahyu
itu adalah Allah memberitahukan kepada orang yang terpilih dari hamba-hamba-Nya
setiap apa saja dari berbagai macam petunjuk dan ilmu yang ingin Dia
beritahukan kepadanya, namun dengan cara yang rahasia dan tersembunyi serta
tidak mengikuti cara yang biasa dilakukan manusia.[13]
Imam
Al-Zuhri pernah ditanya tentang wahyu, kemudian ia menjawab: “wahyu ialah kalam
Allah yang disampaikan kepada salah seorang Nabi-Nya kemudian dikukuhkan-Nya
kedalam hatinya; lalu dia menyatakan bahwa itu adalah wahyu dan ditulisnya.”[14]
1. Tahap
Waktu Turunnya Wahyu
Proses turunnya
Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW adalah melalui tiga tahap yaitu:
Pertama, Al-Qur’an turun secara
sekaligus dari Allah ke lauh Al-mahfuzh,
yaitu suatu tempat yang merupakan catatan tentang segala ketentuan dan
kepastian Allah. Proses pertama ini di isyaratkan dalam QS. Al-Buruj(85) ayat
21-22:
Artinya
: “Bahkan yang didustakan mereka ialah
Al-Qur’an yang mulia. Yang (tersimpan) dalam lauh al-mahfuzh”.(QS. Al-Buruj
:21-22)
Diisyaratkan pula oleh firman Allah
surat Al-Waqi’ah (56) ayat 77-80:
Artinya
: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah
bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (lauh mahfuzh), tidak
menyentuhnya, kecuali hamba-hamba yang di sucikan. Diturunkan dari Tuhan
semesta alam.”( QS. Al-Waqi’ah:77:80)
Tahap kedua, Al-Qur’an diturunkan dari lauh al-mahfuzh itu kebait
al-izzah (tempat yang berada dilangit dunia). Proses ini diisyaratkan Allah
dalam surah Al-Qadar [97]: 1
Artinya
:”sesungguhnya kami telah menurunkannya
(Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.”(QS. Al-Qadar:1)
Juga diisyratkan dalam QS. Surat
Ad-Dukhan [44] ayat 3
Artinya: “ sesungguhnya kami menurunkannya pada
suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya kami lah yang memberi peringatan.”(
QS. Ad-Dukhan:3)
Tahap ketiga, Al-Qur’an diturunkan dari bait al-izzah kedalam hati Nabi dengan jalan berangsur-angsur
sesuai dengan kebutuhan. Ada kalanya satu ayat, dua ayat, dan bahkan
kadang-kadang satu surat.[15]
Selain itu, menurut Syaikh
Al-Khudlari dalam bukunya, Tarikh Tasyi,
masa turunnya Al-Qur’an yang dimulai dari tanggal 17 Ramadhan tahun ke-41 dari
kelahiran Nabi Muhammad saw hingga akhir turunnya ayat pada 9 Zulhijjah tahun
ke-63 dari usia beliau, tidak kurang dari 22 tahun 2 bulan 22 hari. Masa ini
kemudian dibagi oleh para ulama menjadi dua periode yaitu periode Mekkah dan
periode Madinah.
Periode Mekkah dimulai ketika Nabi
Muhammad saw pertama kali menerima ayat-ayat Al-Qur’an pada 17 Ramadhan,tahun
ke-41 dari kelahiran beliau hingga awal Rabiul Awal tahun ke-54 dari kelahiran
beliau, yaitu sewaktu beliau akan berhijrah meninggalkan Mekkah menuju Madinah.
Periode Madinah dimulai sejak Nabi
Muhammad saw berhijrah ke Madinah dan menetap disana sampai dengan turunnya
ayat terakhir pada 9 Zulhijjah tahun ke-63 dari kelahiran beliau. Dengan
demikian, periode Mekkah selama12 tahun 5 bulan 13 hari dan periode
Madinah selama 9 tahun 9 bulan 9 hari.[16]
2. Cara
Turunnya Wahyu
Nabi
Muhammad saw telah menerima kalam Allah melalui tiga cara. Cara yang pertama, adakalanya beliau alami
melalui ilham dikala beliau dalam keadaan jaga. Setelah beliau menerimanya,
beliau dapat mengingatnya dengan tepat. Pengalaman beliau dalam menerima kalam
Allah melalui cara yang pertama dan melalui ilham tersebut telah diriwayatkan
dalam hadis berikut ini, “Sesungguhnya Ruh al-Qudus (Jibril) telah menuangkan
kedalam hatiku bahwa seseorang tidak akan mati sampai rejekinya sempurna;
karena itu, bertakwalah kalian kepada Allah dan berbuat eloklah kamu dalam
mencarinya.”
Disamping
itu, Rasulullah saw juga pernah menerima kalam Allah melalui cara yang pertama,
namun pada waktu tidur, bukan pada waktu jaga. Pengalaman beliau yang seperti
itu telah diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra sebagai berikut, “Pertama kali
Rasulullah saw menerima wahyu adalah
mimpi yang benar ketika tidur. Beliau tidak melihat mimpi itu, kecuali datang
seperti cahaya shubuh.
Cara
kedua, menurut riwayat hanya sekali pernah dialami Rasulullah saw, yaitu ketika
mi’raj, beliau telah menerima perintah untuk melaksanakan shalat fardhu lima
waktu dari Allah secara langsung, tanpa perantaraan Jibril.
Cara
ketiga, adalah cara yang cukup sering dialami oleh Rasulullah saw. Cara ketiga
ini adakalanya Jibril menyampaikan makna (ide) yang terkandung dalam kalam
Allah atau wahyu, kemudian beliau sendiri yang mengungkapkannya kepada kaum
Muslim dengan lafal (redaksi) dari beliau; dan adakalanya pula Jibril langsung
menyampaikan kalam Allah itu tidak hanya berupa makna (ide) yang terkandung
didalamnya, tetapi sekaligus dengan lafalnya langsung dari Allah.
Cara
yang tertinggi dari ketiga cara tersebut adalah cara yang terakhir. Sebab wahyu
yang diturunkan dengan cara terakhir tersebut, hanya untuk para nabi dan para
rasul yang bertugas membawa risalah Allah. Adapun wahyu yang diturunkan dengan
cara yang pertama dan kedua termasuk jenis wahyu yang lebih rendah kendatipun
sifatnya langsung dari Allah SWT. Begitu pula wahyu yang diturunkan melalui
Jibril, namun yang disampaikannya kepada Rasulullah saw hanya berupa makna.
Sebab, wahyu dalam bentuk-bentuk tersebut dapat pula diberikan kepada
orang-orang saleh yang bukan nabi dan rasul.[17]
3. Hikmah
Turunnya Al-Qur’an Secara Berangsur-angsur
a. Memantapkan
Hati Nabi
Ketika
menyampaikan dakwah, Nabi sering berhadapan dengan para penentang. Turunnya
wahyu yang berangsur-angsur itu merupakan dorongan tersendiri bagi Nabi untuk
terus menyampaikan dakwah.
b. Menentang
dan Melemahkan Para Penentang Al-Qur’an
Nabi
sering berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan sulit yang dilontarkan
orang-oramg musyrik dengan tujuan melemahkan Nabi. Turunnya wahyu yag
berangsur-angsur itu tidak saja menjawab pertanyaan itu, bahkan menentang
mereka untuk membuat sesuatu yang serupa dengan Al-Qur’an. Dan ketika mereka
tidak mampu memenuhi tantangan itu, hal itu sekaligus merupakan salah satu
mukjizat Al-Qur’an.
c. Memudahkan
Untuk Dihafal dan Dipahami
Al-Qur’an
pertama kali turun ditengah-tenah masyarakat Arab yang ummi, yakni yang tidak memiliki pengetahuan tentang bacaan dan
tulisan. Turunny wahyu secara berangsu-angsur memudahkan mereka untuk memahami
dan menghafal nya.
d. Mengikuti
setiap kejadiaan (yang karena nya ayat-ayat Al-Qur’an turun) dan melakukan
penahapan dan penetapan syariat.
e. Membuktikan dengan pasti bahwa Al-qur’an turun
dari Allah yang Maha bijaksana.[18]
BAB III
PENUTUP
DAFTAR
PUSTAKA
Abidin, Zainal, Seluk Beluk Al-Qur’an,
Anwar, Rosihan, Ulumul Qur’an,
Ash-Shiddieqy, Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an /
Tafsir,
As-Suyuti, Imam
Jalaluddin, Studi Al-Qur’an Komprehensif,
Athaillah, Ahmad, Sejarah Al-Qur’an Verifikasi tentang
Otentisitas Al-Qur’an,
Athaillah, Ahmad, Sejarah Al-Qur’an Verifikasi tentang
Otentisitas Al-Qur’an,
Muchlas, Imam, Al-Qur’an Berbicara,
Shabany, Mohammad Aly
Ash, Pengantar Study Al-Qur’an
(At-Tibyan),
www.majalah-alkisah.com
[2] Imam
Mukhlas, Al-Qur’an Berbicara,(Surabaya:
Pustaka Progressif, 1996), h. 29
[3]A.
Athaillah, Sejarah Al-Qur’an, (
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), h.134
[4]Mohammad Aly Ash Shabuny, Pengantar Study Al-Qur’an ( At-Tibyan), ( Bandung: Alma’arif,
1996), h.28
[5]Mohammad Aly Ash Shabuny, Pengantar Study Al-Qur’an ( At-Tibyan), ( Bandung: Alma’arif,
1996), h.28
[6] Imam
Muchlas, Al-Qur’an Berbicara, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1996), h.29
[7] Imam
Jalaludin As-Suyuti, Studi Al-Qur’an
Komprehensif, (Surakarta: Indiva Pustaka, 2008), h.107
[8] A.
Athaillah, Sejarah Al-Qur’an,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), h.136
[9]Ibid, h. 132-134.
[10] T. M.
Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan
Pengantar Ilmu Al-Qur’an / Tafsir, (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), h.53
[11] A.
Athaillah, Sejarah Al-Qur’an
Verifikasi tentang Otentisitas Al-Qur’an,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), h.140.
[12] A.
Athaillah, Sejarah Al-Qur’an
Verifikasi tentang Otentisitas
Al-Qur’an, (Banjarmasin: Antasari Press, 2006), h.58
[13] A.
Athaillah, Sejarah Al-Qur’an Verifikasi
tentang Otentisitas Al-Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), h.
114-115
[14] Zainal
Abidin, Seluk Beluk Al-Qur’an, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992),
h.69
[15] Rosihan
Anwar, Ulumul Qur’an,
[16]A.
Athaillah, Sejarah Al-Qur’an Verifikasi
tentang Otentisitas Al-Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010),
h.143-144.
[17]A.
Athaillah, Sejarah Al-Qur’an,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2010), h. 116-118.
[18]Rosihan
Anwar, Ulumul Qur’an, (Bandung:
Pustaka Setia, 2008), h.36.
