Kamis, 10 April 2014

Makalah Psikologi Pendidikan



BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Setiap proses belajar mengajar bermuara pada suatu hasil, sesuai dengan tujuan intruksional. Namun, hasil itu tidak hanya tinggal hasil saja dan kemudian tidak ada apa-apa lagi. Hasil belajar itu harus digunakan pula dikemudian hari, baik selama mahasiswa masih di tempat kuliah, maupun sesudah mahasiswa meninggalkan bangku kuliah. Hasil belajar yang telah diperoleh, disimpan dalam ingatan (long term memory) untuk kemudian digali dari ingatan pada saat-saat dibutuhkan. Dalam penggalian itu dapat timbul kesulitan, dalam arti hasil belajar (yang tersimpan dalam ingatan) ttidak dapat ditemukan, dengan demikian hasil belajar tidak dapat digunakan sebagaimana yang diharapkan. Bilamana mahasiswa mengalami kesulitan dalam penggalian itu, dia dikatakan “telah lupa” atau “tidak dapat mengingat”. Misalnya mahasiswa itu tidak dapat menjawab pertannyaan pada saat middle tes. Meskipun hal yang ditannya kan itu memang pernah dipelajarinya selama pembelajaran yang pernah dilakukannya. Maka sejauh itu lupa dapat dipandang sebagai gejala negative yang menimbulkan kesulitan baik bagi mahasiswa maupun dosen. Jadi, dalam makalah ini kami akan membahas masalah “Lupa” dan hal-hal yang berkaitan dengan lupa.

B.     RUMUSAN MASALAH
a.       Pengertian lupa?
b.      Factor penyebab lupa?
c.       Lupa bukan berarti hilang?
d.      Usaha untuk mengurangi lupa?

C.     TUJUAN
Makalah ini kami buat untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen pengampu, sekaligus memberikan informasi kepada pembaca tentang makalah yang kami bahas ini, semoga bermanfaat bagi kita semua.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Lupa
Lupa (forgetting) ialah hilangnya kemampuan untuk menyebut atau memproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah kita pelajari. Secara sederhana Gulo (1982) dan Reber (1988) mendefinisikan lupa sebagai ketidak mampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami. Dengan demikian lupa bukanlah perissttiwa hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita.[1]
Dosen/guru biasanya memandang lupa sebagai gejala yang menyedihkan, yang seharusnya tidak ada, namun mau tidak mau harus dihadapi. Mungkin saja ada dosen atau guru yang merasa prustasi, karena siswa atau mahasiswanya lupa –lupa saja akan hal-hal yang sudah diajarkan, sehingga dapat timbul pertannyaan: apagunanya mengajar kalau toh siswa akan lupa? Demikian pula para siswa atau mahasiswa cenderung memandang lupa sebagai musuh besar, sebagai nasib malang dan sebagai kekuatan mistik yang menyerangnya serta meninggalkannya dalam keadaan terkkalahkan dan tak berdaya lagi. Bahkan, tidak sedikit siswa yang mencari alasan pokok bagi nasibnya yang malang dalam” bakat ingatan lemah:, dalam arti dia pada dasarnya tidak mampu mengingat dengan baik, dan lupa-lupa saja karena tidak memiliki bakat untuk mengingat. Kalau gagasan semacam ini diterus-teruskan, siswa/ mahsiswa malah sampai pada kesimpulan: lebih baik tidak belajar saja karena toh akan dilupakan. Dengan demikian bukan siswa/mahasiswa sendiri yang bertanggung jawab, melaikan bekal keturunan yang diberikan kepadanya, yang dianggap kurang dari semestinya. Maka, baik guru maupun siswa mendambakan keadaan lain yang serba ideal, dimana tidak terjadi lupa dan segala apa yang pernah dipelajari selalu dapat diingat dengan baik. Namun kenyataannya ialah bahwa keadaan yang serba ideal itu tidak pernah ada, karena lupa pasti akan terjadi, dan tidak dapat seluruhnya dielakkan jadi lupa adalah gejala normal namun dapat dikurangi.[2]



B.     Faktor-faktor penyebab lupa
1.      Lupa dapat terjadi karena gangguan konflik antara item-item infomasi atau materi yang ada dalam system memory individu.
2.      Lupa dapat terjadi pada seseorang karena adanya tekanan terhadap item yang telah ada baik sengaja maupun tidak.
3.      Lupa dapat terjadi pada seseorang karena perubahan situasi lingkungan .
4.      Lupa dapat terjadi karena perubahan sikap dan minat seseorang terhadap proses dan situasi tertentu.
5.      Menurut Law of Disuse (Hilgar & Bower, 1975), lupa dapat terjadi karena pelajaran yang telah dikuasai tidak ppernah digunakan atau dihapalkan.
6.      Lupa dapat terjadi karena perubahan syaraf otak.

C.     Lupa bukan berarti Hilang
Kerap kali penegertian “ lupa “ dan “hilang” secara spontan dianggap sama, padahal apa yang dilupakan belum tentu hilang dari ingatan begitu saja. Hasil penelitian dan refleksi atas pengalaman belajar disekolah memberikan petunjuk bahawa sesuatu yang pernah di camkan dan dimasukan dalam ingatan, tetap menjadi milik pribadi dan tidak menghilang tanpa bekas. Dengan kata lain, kenyataan bahwa seseorang tidak dapat mengingat sesuatu, belum berarti hal itu hilang dari ingatannya, seolah-olah hal yang pernah dialami atau dipelajari sama sekali tidak mempunyai efek apa-apa. Sebagaimana telah dikatakan diatas, belajar yang tidak meninggalkan bekas apapun sebaiknya ditinggalkan saja!
Kemampuan yang ternyata telah terlupakan dan mungkin dianggap telah lenyap, ternyata dapat dihidupkan kembali dengan belajar kembali, misalnya apabila orang itu mempelajari kembali sesuatu yang pernah dipelajarinya waktu dulu waktu yang butuhkan untuk mempelajari kembali tersebut akan jauh lebih sedikit disbandingkan dengan yang diperlukan ketika belajar untuk pertama kali. Seandainya memang telah lenyap/hilang tidak mungkin untuk belajar kembali apalagi dalam jangka waktu yang jauh lebih singkat daripada ketika belajar untuk pertama kali. Ini berarti bahwa kemampuan yang pernah diperoleh tetap berbekas dalam ingatan paling sedikit tinggal sisa-sisanya.
Panggilan dari ingatan dikenal pula sebagai “ekokasi”, yaitu aktualisasi dari apa yang disimpan dalam ingatan, yang kemudian pernah ddicamkan atau diserap (fikssasi) dimasa lampau. Dari kenyataan bahwa apa yang diserap dapat disadarkan kembali atau diingat beberapa waktu kemudian, bahkan lama sesudah berlangsung saat fiksasi, dapat disimpulkan bahwa masih terjadi sesuatu diantara saat fiksasi dan evokasi yaitu fase penyimpanan. Apa yang telah diserap disimpan dalam ingatan samapai saat digali kembali. Yang disimpan itu kerap disebut “bekas ingatan” namun tidak diketahui dengan jelas bagaimana wujud selurunya dari bekas ingatan itu.
Lupa bahkan dapat berfungsi positif, sejauh orang dapat melupakan hal-hal atau pengalaman-pengalaman hidup yang tidak menyenangkan baginya seandainya senua pengalaman yang tidak berkenan dihati selalu diingat-ingat, orangnya mungkin akan memikul beban mental yang berat. Seandainya seorang siswa tetap mengingat-ngingat setiap perlakuan dan tindakan guru yang tidak menyenangkan baginya dalam bentuk pikiran atau tanggapan diingatannya siswa itu setelah tamat akan membawa “bebab ingatan” yang mungkin terlalu berat baginya. Sejauh itu, melupakan sesuatu dapat memegang peranan positif dalam kehidupan seseorang. Namun “melupakan” tetap berbeda sifat dengan “menghilangkan”, sehingga beberapa pengalaman disekolah yang sungguh-sungguh menusuk hati dan sangat mengessankan kadang-kadang muncul kembali dalam ingatan secara agak spontan atau bila berjumpa kembali dengan sesuatu atau seseorang yang berkaitan dengan kehidupan disekolah dahulu.

D.    Usaha mengurangi Lupa
Kiat terbaik untuk mengurangi lupa adalah dengan cara meningkatkan daya ingat akal siswa. Banyak ragam kiat yang dapat dicoba siswa dalam meningkatkan daya ingatanya, antara lain menurut Barlow(1985), Reber(1988), dan Anderson (1990), adalah sebagai berikut.
1.      Overlearning (belajar lebih)
Overlearning artinya upaya belajar ang melebihi batas penguasaan dasar atas materi pelajaran tertentu . overlearning terjadi apabila respon atau reaksi tertentu muncul setelah siswa mempelajari respon tersebut dengan cara diluar keiasaan.
2.      Extra study time (tambahan waktu belajar)
Extra study time ialah upaya penambahan alokasi waktu belajar atau penambahan frekuensi aktifitas belajar. Penambahan alokasi waktu belajar materi tertentu berarti siswa menambah jam belajar, misalnya dari 1 jam menjadi 1 , 5 jam. Penambahan frekuensi belajar berarti sisw meningkatkan kekerapan belajar materi tertentu, misalnya dari sekali sehari menjadi dua kali sehari, kiat ini dipandang cukup strategis karenq dapat melindungi memory dari kelupaan.
3.      Mnemonic device (muslihat memory)
Mnemonic device yang sering juga hanya disebut mnemonic itu berarti kiat khusus yang dijadikan alat pengait mental untuk memasaukan item-item informasi kedalam system akal siswa muslihat mnemonic ini banyak ragamnya tetapi yang paling menonjol adalah sebagaimana terurai dibawah ini.
a.       Rima (rhyme), yakni sajak yang dibuat sedemikian rupa yang isinya terdiri atas kata dan istilah yang harus diingat siswa sajak ini akan lebih baik oengaruhnya apa bila diberi not-not sehingga dapat dinyanyikan.
b.      Singkatan, yakni terdiri atas huruf-huruf awal nama atau istilah yang harus diingat siswa.
c.       System kata pasak, yakni sejenis teknik mnemonic yang menggunakan komponen, komponen yang sebelumnya telah dikuasai sebagai pasak (paku) pengait memory baru. Kata komponen pasak ini dibentuk berpasangan seperti merah saga, panas api. Kata-kata ini berguna untuk mengingat kata dan istilah yang memiliki watak yang sama seperti darah, lipstick, pasangan langit dan bumi, neraka, dan kata/istilah lain yang memiliki kesamaan watak.
d.      Metode losai, yaitu kiat menemonic yang meenggunakan tempat-tempat khusus dan terkenal sebagai sarana penempatan kata dan istilah tertentu yang harus diingat siswa.
e.       System kata kunci(key word system) kiat mnemonic yang satu ini tergolong baru disbanding dengan kiat-kiat mnemonic lainnya. System ini teerbentuk daftar kata yang terdiri atas unsur-unsur: kata-kata asing, kata-kata kunci, yakni kata-kata bagasa lokal yang paling kurang suku pertamanya memiliki suara atau lafat yang mirip dengan kata yang dipelajari, arti-arti kata asing tersebut.
4.      Pengelompokan, maksud kiat pengelompokan ialah meneta ulang item-item materi menjadi kelompok-kelompok kecil yang dianggap lebih logis, dalam arti bahwa item-item tersebut memiliki siknifikansi dan lafal yang sama atau sangat mirip.
5.      Latihan terbagi, lawan latihan terbagi adalah latihan terkumpul yang sudah dianggap tidak efektif karena mendorong siswa melakukan cramming.
6.      Pengaruh letak bersambung, untuk memperoleh efek positif dari pengaruh letak bersambung siswa dianjurkan menyusun daftar kata-kata yang diawali dan diakhiri dengan kata-kata yang harus diingat.


[1] Muhibbin Syah, “Psikologi Belajar”, PT. Raja Grarindo Persaja, Jakarta, 2003. Hal :168
[2] Winkle, “Psikologi Pengajaran”, Media Abadi, Yogyakarta, 2004. Hal : 500

Tidak ada komentar:

Posting Komentar