Selasa, 03 Februari 2015

Opini "Kekuatan Damai"



Kekuatan Damai
katakanlah kubu. Saya lebih suka dengan sebutan kubu, menjunjung tinggi  tujuan namun makna dari tujuan itu sendiri  memudar “ banyak jalan menuju roma”,melandasi kubunya dengan hukum- hukum memperkuat sayapnya dengan argumen yang menjatuhkan lawan yang sebenarnya bertujuan sama.
Mengapa ini menjadi budaya para penghuni kubu, dokrin yang kuat berasal seorang pelopor yang mempunyai dasar pemikiran yang kuat pula, untuk memperkuat dan melestarikan pemikirannya dia membuat kubu, maka dengan bangganya pemikirannya digemari dan di lestarikan banyak orang dengan jalan pemikiran yang secara otomatis sama, di karenakan orang yang memasuki ranah perkubuan hanya sekedar masuk dan akan bergelut di dalamnya tanpa terlebih dahulu  mengenal dokrin yang menyelimuti kubu tersebut.
Dari individu berubah menjadi sebuah kubu, lantas visi misinya tentu ingin menjadi sebuah kubu yang besar bahkan tak heran ingin menjadi sebuah negara yang mempunyai dasar pemikiran dan tujuan yang diyakini akan membawa kemasyalahatan umat. Menjanjikan sebuah perdamaian walaupun berbeda pemikiran, perdebatan ini ada di dalam sistem yang dimiliki masing- masing dan dibarangi dengan moral yang rusak karena dokrin pemikir awal.
Kubu- kubu ini pantas dibilang sebagai sekumpulan orang pintar namun kepintaran mereka dibatasi oleh AD-ART yang dimilikinya. Menjadi budak pemikiran orang lain yang meregangkan jalinan silaturahim sesama umat Islam bahkan antar agama.
Melihat prilaku kubu- kubu ini jauh dari perdamaian, mereka memasang muka damai dan sedemikian rupa merangkai kata agar didengar indah satu sama lain,” mari kita tegakkan keadilan dan perdamaian diNegeri ini” menjunjung tinggi asasnya melumpuhkan kerukunan umat beragama menjatuhkan moral Agama islam yang mencintai perdamaian.
Makna kedamaian hanya mereka realisasikan pada kubunya dan masyrakat yang mendukung aspirasinya sebagai sebuah kubu. Sementara kubu lain yang berbeda pemikiran di lupakan dan dimusuhi secara sistem.
Kalian para penghuni kubu sekaligus budak pemikiran orang yang tidak bertanggung jawab atas generasi penerus seharusnya sadar bahwa kita sudah mempunyai sistem yang sama mengapa harus kalian buat lagi sistem demi kepentingan pemikiran yang tidak sejalan, tindakan ini hanya merusak kedamaian kita yang seharusnya mempunyai kekuatan bersama dalam membela Negara dan Agama. Biarkan pemikiran kita yang berbeda ada pada satu sistem karena visi misi awal kita semua sama, tuangkan pemikiran kita yang berbeda menjadi sebuah strategi yang kokoh dengan perkembangan zaman.
Memperkuat diri sendiri sama dengan perlahan- lahan meruntuhkan pondasi sistem yang seharusnya dijaga bersama- sama dalam perdamaian.


Penulis : Muhammad Husni





Puisi "Impas"



IMPAS


 Wahai penguasa negeri melarat
 Kesinilah temani aku
Risihlah dengan keadaan
Jangan biarkan otak mu sadar
Memudarlah dengan ku
Pekalah pada titik nista
Sadarilah kesamaan
Bukan kau yang bersih
Buka aku yang kotor
Kita keduanya
Satu dalam dua mungkin
Hei kau tak kenal siapa aku
Tak sepantasnya kau meragu
Aku diam kau berleha-leha
Aku bergerak kau beralibi
Aku menangis kau menangis
Aku tertawa kau tetap menangis
Kita impas dalam keadaan


Penulis : Nor hidayat


Cerpen "Ontel tanpa Iklan di pedalnya



Ontel tanpa Iklan di pedalnya

Hembusan nafas berlari kencang mengitari rongga dada yang turun naik tak beratutan. Menyempit lalu melebar. Peluh dingin dengan mesra mengaliri punggung dan leher. Merayap kebagian tubuh yang lebih rendah, menyisip pada semua sudut ciptan-Nya. Kain tebal sebagai pelindung dari lelaki jalangpun terkena imbasnya. Basah, tak sebasah mandi basah, hanya sedikit basah bagaikan terkena cipratan air terjun (,,,,) yang berjarak seratus meter. Basah yang memperindah kecantikan dan keperkasaan seorang gadis yang tak lagi disebut remaja. Dikayuhnya dengan seksama. Ontel berwarna abu rokok tanpa ada gambar iklan seram di pedalnya. Senyum menyeringai lembut dari balik masker pelindung debu jalang yang ada disetiap jejak perkotaan. Senyum keterpaksaan yang dibalut rasa sabar atas kenyataan yang diperkosa keadaan. Tak pernah terpikir olehnya, berjuang sendiri di tengah ganasnya dunia nyata. Menjejaki jejak baru tanpa ada jejak yang mejejaki.
            Dikayuhnya sekali lagi pedal ontel itu. Sejenak nampak terlihat bibir kering di antara sudut wajanya. Lelah. Pusing kepala gadis itu sangat jelas terlihat dari guratan matanya yang berair. Di rak sepadanya tersusun campur barang-barang bawaan, dibalik punggung kurusnya tersampir tas ransel berukuran layaknya anak kudanil usai makan. Berat. Sungguh berat. Bibirnya mulai mencibir ketika perjalanan mulai ramai oleh kenadaraan mewah lain. Sorot matanya yang sedari tadi fokus pada jalan, kini berpindah jadi jelalatan pada motor yang baru saja menyelipnya dengan kecepatan turbo. “Kenapa lelaki itu cepat sekali ? tidak kah ia membahayakan masa depannya ? atau dia ngebut karena ada aku dan sepadaku ?”. Pikirnya yang sangat retoris. Selalu menyalahkan diri. Khawatir akan dosa.
Otaknya macet. Ia pun berhenti di pertigaan jalan menuju rumahnya. Bukan, itu bukan rumahnya. Itu adalah rumah kontrakan yang kesekian kalinya. Ia selalu berpindah setiap habis bulan. Mencari lokasi yang sesuai dengan statusnya sebagai mahasiswa. Ontel abu rokok itu, ia parkirkan di pinggir jalan. Sedang ia sendiri duduk termangu sebelahnya. Nafasnya kembali naik turun. Tangan kasar berwarna kuning pisang tua itu diremasnya.
“Haruskah aku menuntun sepedaku, agar orang-orang tak terganggu akan kehadiranku ?” keluhnya penuh bingung.
            “Tidak... tidak. Aku pun punya hak atas jalan ini. Tak penting mengapa orang itu jadi cepat sekali.” Sadarnya pada kebodohan diri.
            Melihat diri menjadi pusat perhatian para pengendara lainnya. Seberkas kilat ia menaiki sepeda abu rokok itu. Menukik tajam pada persimpangan, tanpa memperhatikan sekitar.
            “Gilaa... haruskah aku membuat diri malu karena kebodohan otak ini ? Hahhhgghh... harus berapa kali aku menyadarkan diri atas rasa bersalah tak masuk akal ini.” Gumamnya berapi-api.
            “Haaahhhhggh.... Ya Allah...” keluhnya.
            “Punnn...”
            Sekelebat tubuh gadis itu menukik ke arah kiri belakang. Ia memang tak bisa menengokkan kepalanya ke sebelah kanan, jika itu terjadi. Dapat dipastikan ia kan jatuh beserta sepedanya. Penasaran terhadap jawabana atas perkataannya. Namun rupanya posisi orang yang menyahutinya itu tidak di kiri belakangnya. Tak mendapati muka yang berbicara. Ia pun mengerem mendadak pada belokan yang hampir sampai pada gang rumahnya. Penasaran. Hal itulah yang memaksanya berhenti. Citttt... Tentu saja. Ontel yang ada dibelakangya gelagapan. Syukur tak terjadi tabrakan.
            “Kenapa...?” emosi orang itu. Ternyata ia adalah seorang lelaki yang tak kalah gantengnya dengan Raditya Dika.
            “Hhhee...” senyum malu yang tersimpul takut.
Sepertinya ia salah paham akan jawaban tadi. Jelas terlihat ditelinga lelaki itu sedang tersangkut headset yang terhubung pada handphone di saku celana.
“Sebentar Mah...” lanjut lelaki itu berbicara pada orang yang ada di seberang sana.
Aauuuuww.... malunya. Muka gadis itu berevolusi. Secara spontan mucat pasi. Gemetar kakinya tergambar dari rok hitam yang ia kenakan, bergerak-gerak sesuai irama jantung.
“Ada apa...?” selidik lelaki itu lagi.
Bingung. Hal biasa yang akan ia lakukan saat seperti ini adalah, diam. Ia takkan beranjak dari tempatnya. Melihat kelakuan aneh dari gadis itu. Sang lelaki serupa dengan Raditya dika itu pun beranjak pergi, mengayuh sepedanya yang berwarna orance stabilo.
“jawaaaab...” desak lodika gadis itu. “jangan buat dirimu malu lagi”
            “ma--- a---aff... itt---tuu...” ucapnya gagap.
            “Hemmm...” respon lelaki itu. Padahal ia telah mulai mengayuh sepedanya. Namun ia tetap mendengar suara parau bernada gagap itu. Ia berhenti. Dan mundur beberapa senti ke belakang. Ditatapnya lekat-lekat tubuh gadis itu. Senyum mengejek tiba-tiba menyeringai. Ketika ia mendapati rupa gadis itu sungguh ketakutan.
            “tadi aku meihat ada uang di jalan...” Tandas gadis itu memperlihatkan kebodohannya.
            Kebodohan yang telah sekian kali ia lakukan, dan hal itu terjadi di saat dirinya berada di bawah tekanan. Tentu saja lelaki itu penasaran, di ktarinya lokasi setempat dengan sudut matanya yang tajam. Namun ia tak mendapati uang yang dimaksud.
            “Uangnya udah diambil oleh Tuhan. Itu haknya orang yang berhak.” Celetuk gadis manis itu.
Jawabannya kali ini sungguh tak masuk akal. Lelaki itu, menyeringai kecut. Lalu pergi membawa otak yang tepaku pada rasa was-was.
            “Hhhee...” senyum gadis itu bangga.
            Dinikmatinya suasana kacau saat itu. Ia senidiri tak pernah berencana untuk berdusta seperti itu. Tapi ini adalah sebuah dalih pelarian, dari rasa bersalah yang menyerbu. Ia tahu siapa lelaki itu. Adalah anak seorang dokter yang berada di gang sebelah. Rupanya gadis yang zak begitu cantik ini merupakan pengamat perjaka di sekitar komplek. Pasalnya, ia baru saja pindah dua hari yang lalu ke tempat ini, tapi telah mengetahui penghuni tampan yang ada di sekitar.
            Sepuluh menit, lima belas menit, tak jua ia beranjak dari tempat. Ia masih menyesuaikan irama jantungnya. Mengaturnya agar tak berirama terlalu ngebit.
            Mu’adzin di langgar pun tak bisa menahan lengkingan suaranya. Mengabarkan waktu malam telah tiba. Menebar undangan agar hadir pada perjamuan Tuhan. Mata gadis itu berlarian mengitari lokasi. Ia baru tersadar, hari tak lagi bercahaya. Diinjaknya pedal sepeda abu rokok dengan setengah kekuatan yang ada.



Penulis : Siti Machbubah

           
           






FEATURE




 


Istirahat dari kehidupan kampus bukanlah salah satu dari agenda yang direncanakan. Pilihan dari ribuan pilihan, tapi hanya satu pilihan yang wajib dikenakan. Tak diperkenankan memilih ribuan pilihan yang disediakan. Itulah keputusan berat yang wajib dan kudu diambil oleh seorang presiden mahasiswi wisma dua Ma’had Al-Jami’ah periode 2013/12014. Tapi karena kebutuhan tubuhlah yang mendesak pilihan itu, maka pilihan itulah yang terbaik dari ribuan pilihan yang lain.
Bukanlah hal yang mudah bagi gadis berkulit coklat capocino ini. Di tengah sejuta prestasi yang menanti, ia harus berkecamuk dengan penderitaan raga. Suatu cobaan dari Tuhan sedang mampir ke tubuh cerianya sejak Aliyah. Cobaan ini kian merenggut rasa sehatnya, hingga memasuki dunia perkuliahan. Dan disaat-saat inilah, raganya sering terkalahkan oleh rasa sakit yang tak terkirakan. Hingga pada keputusan akhir dari pilihannya. Istirahat dari kampus hijau IAIN Antasari tercinta, dan fokus terhadap pengobatan.
Ia bukanlah tipikal gadis lembek, yang akan menangis di pangkuan orang tua ketika menghadapi pesakitan seperti ini. Ia justru menunjukan keagresipan disaat waktu luang lebih banyak menghampirinya.
“Hidup tiada mungkin tanpa perjuangan dan pengorbanan.” Tuturnya mealalui pesan elektronik.
Keinginannya untuk memburu ilmu tak pupus lantaran sakit yang diderita. Ia kembali membuka jendela dunia yang dulu sempat hampir tertutup. Kuliah eksklusif pun ia jalani di STIH Sultan Adam, meski jendela keilmuan yang saat ini tak sama dengan jendela yang dulu pernah ia buka di IAIN. Fakultas Hukum ialah jendela yang baru saja ia sentuh.
Disegala aktifitasnya yang membanggakan, ternyata tubuhnya meringkih kesakitan. Meski intensitas sakitnya tak sesering sebelum pengobatan. Pantang menyerah. Gambaran watak dari gadis cantik satu ini. Asanya tak putus ketika keadaan memasungnya untuk beraktifitas. Pasca istirahat dari dunia kampus selama hampir satu semeter. Kini gaum prestasinya terdengar kembali, belakangan diketahui selama ia memfokuskan diri untuk kesehatan. Ia mengikuti pelatihan dan beberapa seleksi ditingkat kabupaten lalu ke provinsi. Tak mudah baginya mempersiapkan semuanya ditengah raga yang tak sehat. Dan tak mudah pula baginya menghadapi sekitar 50 pesaing yang dikirim oleh masing-masing kabupaten. Namun rasa sakit itu tak ubahnya seperti angin sepoi yang membelai hanya untuk sesaat. Tak dirasa dan tak diacuhkan. Yang hingga akhirnya ia kini berhasil melangkah jauh, keluar pulau banua seribu sungai.
Normina, begitulah nama yang diwariskan orangtuanya kepada gadis cerdas ini. Ia sekarang  menjadi salah satu duta Kalimantan Selatan pada Event Jambore Pemuda Indonesia yang berlangsung di Yogyakarta dan Bakti Pemuda Antar Provinsi yang bertempat di Nusa Tenggara Timur, selama kurang lebih 37 hari.
Pada awalnya seorang Mina yang tegar lagi tangguh, sempat merasa goyah. Ketika ia menyadari keuangan yang ada tak mungkin mencukupi keberangkatannya dalam agenda ini. Sulit baginya untuk menengadahkan tangan pada orang tua. Ia terus berdo’a agar bisa menghadapi masalah ini. Karena kekuatan do’a yang begitu ia yakini, akhirnya kabar gembira pun datang.
“Aku bersyukur sepeserpun tidak ada uang yang kukeluarkan, karena semua sudah ditanggung oleh DISPORA kabupaten dan Kal-Sel.” Khidmatnya pada apa yang telah diperoleh.
“Dan Al-hamdulillah aku bersyukur kepada Allah, terimakasih kepada orang tua, malaikat-malaikat kecilku, kakak-kakakku, pemerintah kabupaten maupun provinsi. Dan teruntuk sahabat surgaku J aku bisa masuk 15 besar. Aku merasa bangga, karena bisa menjadi wakil pemuda Kal-Sel dari 1000 lebih pemuda yang ada di Kal-Sel. Semua itu tak luput dari do’a dan usaha yang selalu kupanjatkan.” Ucapnya di tengah-tengah kesibukannya melakukan aktifitas di Keraton Yogya.”
Di saat gemilang prestasi membanjiri, ia masih sadar betul akan kekurangan yang ia miliki, karena menurutnya tak ada manusia yang sempurna, semua mempunyai kekurangan, “Bahkan sangat banyak kekurangan yang kumiliki,” akunya. “Namun aku selalu bersyukur karena masih ada kelebihan yang kupunya. Tapi aku akan sanngat bersyukur, seandainya kekuranganku bisa membuat kelebihan dimata orang lain J.” Imbuhnya di sela-sela kesibukan.
“Janganlah melihat kelebihan jika tidak bisa menerima kekuranganku.” Tandasnya.
“Untuk sahabat surgaku, akku masih banyak kekurangan, tegur bila kusalah, ingatkan bila kulupa, semangati aku bilaku mulai menyerah J.” Lirihnya mengingat seribu kebaiakan dari sahat surga.
Hingga detik ini ia masih melakukan pengobatan dan sakit raga yang dirasa akan kambuh meski tak sesering waktu dulu. Semua pengobatan ini ia lakukan bukan demi pujian dan penghargaan. Tapi demi sebuah cita-cita mulia. Perintah Allah dan Rasulnya, yakni khafidzah Qur’an.