Selasa, 03 Februari 2015

FEATURE




 


Istirahat dari kehidupan kampus bukanlah salah satu dari agenda yang direncanakan. Pilihan dari ribuan pilihan, tapi hanya satu pilihan yang wajib dikenakan. Tak diperkenankan memilih ribuan pilihan yang disediakan. Itulah keputusan berat yang wajib dan kudu diambil oleh seorang presiden mahasiswi wisma dua Ma’had Al-Jami’ah periode 2013/12014. Tapi karena kebutuhan tubuhlah yang mendesak pilihan itu, maka pilihan itulah yang terbaik dari ribuan pilihan yang lain.
Bukanlah hal yang mudah bagi gadis berkulit coklat capocino ini. Di tengah sejuta prestasi yang menanti, ia harus berkecamuk dengan penderitaan raga. Suatu cobaan dari Tuhan sedang mampir ke tubuh cerianya sejak Aliyah. Cobaan ini kian merenggut rasa sehatnya, hingga memasuki dunia perkuliahan. Dan disaat-saat inilah, raganya sering terkalahkan oleh rasa sakit yang tak terkirakan. Hingga pada keputusan akhir dari pilihannya. Istirahat dari kampus hijau IAIN Antasari tercinta, dan fokus terhadap pengobatan.
Ia bukanlah tipikal gadis lembek, yang akan menangis di pangkuan orang tua ketika menghadapi pesakitan seperti ini. Ia justru menunjukan keagresipan disaat waktu luang lebih banyak menghampirinya.
“Hidup tiada mungkin tanpa perjuangan dan pengorbanan.” Tuturnya mealalui pesan elektronik.
Keinginannya untuk memburu ilmu tak pupus lantaran sakit yang diderita. Ia kembali membuka jendela dunia yang dulu sempat hampir tertutup. Kuliah eksklusif pun ia jalani di STIH Sultan Adam, meski jendela keilmuan yang saat ini tak sama dengan jendela yang dulu pernah ia buka di IAIN. Fakultas Hukum ialah jendela yang baru saja ia sentuh.
Disegala aktifitasnya yang membanggakan, ternyata tubuhnya meringkih kesakitan. Meski intensitas sakitnya tak sesering sebelum pengobatan. Pantang menyerah. Gambaran watak dari gadis cantik satu ini. Asanya tak putus ketika keadaan memasungnya untuk beraktifitas. Pasca istirahat dari dunia kampus selama hampir satu semeter. Kini gaum prestasinya terdengar kembali, belakangan diketahui selama ia memfokuskan diri untuk kesehatan. Ia mengikuti pelatihan dan beberapa seleksi ditingkat kabupaten lalu ke provinsi. Tak mudah baginya mempersiapkan semuanya ditengah raga yang tak sehat. Dan tak mudah pula baginya menghadapi sekitar 50 pesaing yang dikirim oleh masing-masing kabupaten. Namun rasa sakit itu tak ubahnya seperti angin sepoi yang membelai hanya untuk sesaat. Tak dirasa dan tak diacuhkan. Yang hingga akhirnya ia kini berhasil melangkah jauh, keluar pulau banua seribu sungai.
Normina, begitulah nama yang diwariskan orangtuanya kepada gadis cerdas ini. Ia sekarang  menjadi salah satu duta Kalimantan Selatan pada Event Jambore Pemuda Indonesia yang berlangsung di Yogyakarta dan Bakti Pemuda Antar Provinsi yang bertempat di Nusa Tenggara Timur, selama kurang lebih 37 hari.
Pada awalnya seorang Mina yang tegar lagi tangguh, sempat merasa goyah. Ketika ia menyadari keuangan yang ada tak mungkin mencukupi keberangkatannya dalam agenda ini. Sulit baginya untuk menengadahkan tangan pada orang tua. Ia terus berdo’a agar bisa menghadapi masalah ini. Karena kekuatan do’a yang begitu ia yakini, akhirnya kabar gembira pun datang.
“Aku bersyukur sepeserpun tidak ada uang yang kukeluarkan, karena semua sudah ditanggung oleh DISPORA kabupaten dan Kal-Sel.” Khidmatnya pada apa yang telah diperoleh.
“Dan Al-hamdulillah aku bersyukur kepada Allah, terimakasih kepada orang tua, malaikat-malaikat kecilku, kakak-kakakku, pemerintah kabupaten maupun provinsi. Dan teruntuk sahabat surgaku J aku bisa masuk 15 besar. Aku merasa bangga, karena bisa menjadi wakil pemuda Kal-Sel dari 1000 lebih pemuda yang ada di Kal-Sel. Semua itu tak luput dari do’a dan usaha yang selalu kupanjatkan.” Ucapnya di tengah-tengah kesibukannya melakukan aktifitas di Keraton Yogya.”
Di saat gemilang prestasi membanjiri, ia masih sadar betul akan kekurangan yang ia miliki, karena menurutnya tak ada manusia yang sempurna, semua mempunyai kekurangan, “Bahkan sangat banyak kekurangan yang kumiliki,” akunya. “Namun aku selalu bersyukur karena masih ada kelebihan yang kupunya. Tapi aku akan sanngat bersyukur, seandainya kekuranganku bisa membuat kelebihan dimata orang lain J.” Imbuhnya di sela-sela kesibukan.
“Janganlah melihat kelebihan jika tidak bisa menerima kekuranganku.” Tandasnya.
“Untuk sahabat surgaku, akku masih banyak kekurangan, tegur bila kusalah, ingatkan bila kulupa, semangati aku bilaku mulai menyerah J.” Lirihnya mengingat seribu kebaiakan dari sahat surga.
Hingga detik ini ia masih melakukan pengobatan dan sakit raga yang dirasa akan kambuh meski tak sesering waktu dulu. Semua pengobatan ini ia lakukan bukan demi pujian dan penghargaan. Tapi demi sebuah cita-cita mulia. Perintah Allah dan Rasulnya, yakni khafidzah Qur’an.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar