MEMBACA DALAM DUNIA MAHASISWA
Antasari-LPM SUKMA(30/10/14). perpustakaan adalah sebuah
koleksi buku dan majalah. Walaupun dapat diartikan sebagai koleksi pribadi
perseorangan, namun perpustakaan lebih umum dikenal sebagai sebuah koleksi
besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau institusi, dan
dimanfaatkan oleh mahasiswa yang rata-rata tidak mampu membeli sekian banyak
buku atas biaya sendiri.
Buku merupakan kebutuhan dasar bagi para mahasiswa, pada
tahun 2015 mendatang pihak UPT Perepustakaan Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Antasari Banjarmasin mencanangkan sebuah program yang dinamakan perpustakaan
digital. Kepala UPT Perpustakaan, Akhmad syaikhu, S.Ag.,SS., Msi, selasa
(28/10/14) mengatakan kenapa perlu digitalisasi karena ini adalah trend ketika
perpustakaan berkembang seiring dengan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK),
yang membuat media penyimpanan informasi
semakain variatif. Jika dahulu media penyimpanannya hanya kertas sekarang tersedia
menjadi file-file di computer, CD-ROM, DVD, USB Flash disk dll.
“perpustakaan pusat IAIN Antasari perlu menyesuaikan diri
dengan perubahan yang terjadi. Dalam perspektif kami sebagai penggelut dunia
pepustakaan, digitalisasi dokumen-dokumen lokal yang dimiliki oleh IAIN
Antasari yang terdiri dari skripsi, tesis, disertasi dan laporan penelitian
yang mendesak.” Katanya.
Sebagai mahasiswa membaca buku seharusnya menjadi sumber
ilmu pengetahuan, tetapi malah sebaliknya membaca dalam dunia mahasiswa
sangatlah jarang, padahal itu menjadi tolak ukur majunya suatu perguruan
tingggi. Buku juga merupakan cendela dunia, kalau mahasiswa malas membaca
bagaimana bisa melihat candela dunia tersebut.
Bahrudin selaku mahasiswa fakultas dakwah dan komunikasi
jurusan komunikasi penyiaran islam mengatakan perubahan buku biasa menjadi buku
digital malah membuat mahasiswa menjadi tambah malas membaca. Ada beberapa
alasan menurutnya karena buku digital itu terhubung ke internet, membukanya
lewat Laptop, i phone, smart phone dll. Itulah membuat mahasiswa tambah malas
membaca karena mahasiswa lebih cenderung membuka jejaring social seperti
Facebook, twitter, BBM dll lewat smartphone mereka.
“Buku digital mempunyai kelebihan yang signifikan karena
hanya bisa dibaca dan tidak bisa di copy, penyebaran hasil-hasil karya
penelitian agar bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, melestarikan
karya-karya yang bernilai lama dari kertas, mudah karena tanpa di batasi waktu
dan jarak” . Lanjut Bahrudin.
Pertanyaannya apakah mahasiswa menjadi gemar membaca atau
malah sebaliknya dengan diadakannya buku digital ? menurut Bapak Akhmad Syaikhu
penyebab mahasiswa malas membaca yakni mahasiswa cepat bosan, karena banyak
kesibukan seperti Organisasi dan kesibukan yang lain, panjangnya pembahasan atau kajian dalam
sebuah buku, dan tingginya bahasa yang dipakai penulis sehingga mahasiswa baru
melihat pendahuluan sebuah buku sudah
geleng-geleng kepala.
Budaya membaca buku kiranya harus selalu di lestarikan serta
tetap menjadi perhatian pihak yang berkaitan serta didukung oleh pemerintah.
Dengan memelihara budaya tersebut, kualitas pengetahuan mahasiswa akan
meningkat. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa jumlah penduduk indonesia
merupakan salah satu yang tertinggi di dunia, akan tetapi tingginya kuantitas
ini tidak diiringi dengan kualitas hidup yang salah satu penyebabnya adalah
kurangnya wawasan yang mereka miliki. Upaya dalam mengatasi hal ini, adalah
dengan menyadarkan mahasiswa akan pentingnya membaca. Dengan membudayakan
membaca, memungkinkan untuk mendapatkan informasi yang tepat dan akurat. “Pihak
kami pun bekerjasama dengan pihak rektorat berupaya memotivasi mahasiswa agar
mahasiswa tidak malas lagi dalam membaca buku dan tahu betapa besarnya manfaat
membaca sehingga mahasiswa kita tidak ketinggalan integritas keilmuannya” ujar
ketua UPT perpustakaan Akhmad syaikhu kepada wartawan LPM SUKMA.
(MH 2307 dkk).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar