Selasa, 03 Februari 2015

INDEPT NEWS



MEMBACA DALAM DUNIA MAHASISWA

Antasari-LPM SUKMA(30/10/14). perpustakaan adalah sebuah koleksi buku dan majalah. Walaupun dapat diartikan sebagai koleksi pribadi perseorangan, namun perpustakaan lebih umum dikenal sebagai sebuah koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau institusi, dan dimanfaatkan oleh mahasiswa yang rata-rata tidak mampu membeli sekian banyak buku atas biaya sendiri.

Buku merupakan kebutuhan dasar bagi para mahasiswa, pada tahun 2015 mendatang pihak UPT Perepustakaan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin mencanangkan sebuah program yang dinamakan perpustakaan digital. Kepala UPT Perpustakaan, Akhmad syaikhu, S.Ag.,SS., Msi, selasa (28/10/14) mengatakan kenapa perlu digitalisasi karena ini adalah trend ketika perpustakaan berkembang seiring dengan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK), yang membuat media penyimpanan  informasi semakain variatif. Jika dahulu media penyimpanannya hanya kertas sekarang tersedia menjadi file-file di computer, CD-ROM, DVD, USB Flash disk dll.

“perpustakaan pusat IAIN Antasari perlu menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Dalam perspektif kami sebagai penggelut dunia pepustakaan, digitalisasi dokumen-dokumen lokal yang dimiliki oleh IAIN Antasari yang terdiri dari skripsi, tesis, disertasi dan laporan penelitian yang mendesak.” Katanya.

Sebagai mahasiswa membaca buku seharusnya menjadi sumber ilmu pengetahuan, tetapi malah sebaliknya membaca dalam dunia mahasiswa sangatlah jarang, padahal itu menjadi tolak ukur majunya suatu perguruan tingggi. Buku juga merupakan cendela dunia, kalau mahasiswa malas membaca bagaimana bisa melihat candela dunia tersebut.

Bahrudin selaku mahasiswa fakultas dakwah dan komunikasi jurusan komunikasi penyiaran islam mengatakan perubahan buku biasa menjadi buku digital malah membuat mahasiswa menjadi tambah malas membaca. Ada beberapa alasan menurutnya karena buku digital itu terhubung ke internet, membukanya lewat Laptop, i phone, smart phone dll. Itulah membuat mahasiswa tambah malas membaca karena mahasiswa lebih cenderung membuka jejaring social seperti Facebook, twitter, BBM dll lewat smartphone mereka.

“Buku digital mempunyai kelebihan yang signifikan karena hanya bisa dibaca dan tidak bisa di copy, penyebaran hasil-hasil karya penelitian agar bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, melestarikan karya-karya yang bernilai lama dari kertas, mudah karena tanpa di batasi waktu dan jarak” . Lanjut Bahrudin.

Pertanyaannya apakah mahasiswa menjadi gemar membaca atau malah sebaliknya dengan diadakannya buku digital ? menurut Bapak Akhmad Syaikhu penyebab mahasiswa malas membaca yakni mahasiswa cepat bosan, karena banyak kesibukan seperti Organisasi dan kesibukan yang lain,  panjangnya pembahasan atau kajian dalam sebuah buku, dan tingginya bahasa yang dipakai penulis sehingga mahasiswa baru melihat pendahuluan sebuah buku  sudah geleng-geleng kepala.

Budaya membaca buku kiranya harus selalu di lestarikan serta tetap menjadi perhatian pihak yang berkaitan serta didukung oleh pemerintah. Dengan memelihara budaya tersebut, kualitas pengetahuan mahasiswa akan meningkat. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa jumlah penduduk indonesia merupakan salah satu yang tertinggi di dunia, akan tetapi tingginya kuantitas ini tidak diiringi dengan kualitas hidup yang salah satu penyebabnya adalah kurangnya wawasan yang mereka miliki. Upaya dalam mengatasi hal ini, adalah dengan menyadarkan mahasiswa akan pentingnya membaca. Dengan membudayakan membaca, memungkinkan untuk mendapatkan informasi yang tepat dan akurat. “Pihak kami pun bekerjasama dengan pihak rektorat berupaya memotivasi mahasiswa agar mahasiswa tidak malas lagi dalam membaca buku dan tahu betapa besarnya manfaat membaca sehingga mahasiswa kita tidak ketinggalan integritas keilmuannya” ujar ketua UPT perpustakaan Akhmad syaikhu kepada wartawan LPM SUKMA.

(MH 2307 dkk).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar