Kamis, 10 April 2014

Makalah Ulumul Qur'an



Tugas Terstruktur                              Dosen pengampu
   Ulumul Qur’an                           Drs.H.Abdul Basyir, M.Ag
                                                                                   

ILMU NUZUL QUR’AN
TAHAP WAKTU dan CARA TURUNNYA
 WAHYU



Iain
 














Di Susun Oleh :

KELOMPOK :XI

Normina (1301251008)
Nurmiati ( 1301251012 )
Rahmi Anggia ( 1301251016 )



INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI ANTASARI
FAKULTAS TARBIYAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
BANJARMASIN
2013




BAB I
PENDAHULUAN
A.  LATAR BELAKANG
Al-Qur’an adalah kitab suci agama Islam yang diturunkan untuk memberi petunjuk kepada semua umat manusia. Permulaan turunnnya Al-Qur’an bertepatan pada malam 17 Ramadhan atau yang biasa disebut dengan malam Nuzulul Al-Qur’an. Dimana malam tersebut adalah malam yang sangat mulia dan penuh berkah. Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi pada masa itu.
Dalam proses terbentuknya Al-Qur’an, sangat banyak tahap-tahap waktu dan cara-cara turunnya wahyu yang harus dilalui. Sehingga membutuhkan waktu sekitar 22 tahun 2 bulan 22 hari. Sebagai seorang Muslim dan Muslimah, kita harus mengetahui proses turunnya Al-Qur’an, terutama tahap-tahap dan cara-cara turunnya wahyu tersebut sehingga terbentuknya kitab suci Al-Qur’an yang mulia ini.
B.  RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang dimaksud dengan Nuzul Al-Qur’an dan apa saja proses-proses yang terjadi didalamnya ?
2.      Bagaimana tahapan-tahapan waktu  dan cara-cara turunnya wahyu sehingga terbentuknya Al-Qur’an ?

C.  TUJUAN PENULISAN
1.      Untuk mengetahui makna dari Nuzul Al-Qur’an.
2.      Untuk mengetahui proses-proses yang terjadi pada Nuzul Al-Qur’an.
3.      Untuk mengetahui tahapan-tahapan waktu dan cara turunnya wahyu.
BAB II
PEMBAHASAN
A.  Nuzul Al-Qur’an
1.    Pengertian Nuzul Al-Qur’an
Nuzulul Qur’an terdiri dari dua kata: Nuzul (turun) dan Al-Qur’an. Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan arti “Turunnya Al-Quran”. Namun dalam memahaminya tidak sesederhana arti terjemahannya, supaya tidak terjadi pemahaman yang keliru. Misalnya anggapan bahwa turunnya Al-Qur’an itu sama dengan turunnya benda-benda yang mempunyai berat jenis tertentu dari atas ke bawah.
Syaikh Abdul Azhim Az-Zarqani dalam kitabnya, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an, berkata: ‘sebagai kata, memang kata nuzul berarti pindahnya sesuatu dari atas ke bawah. Terkandung dalam makna nuzul tersebut bergeraknya sesuatu dari arah atas ke bawah. Namun pengertian nuzul tersebut tidak patut diberikan untuk maksud Nuzulul Qur’an. Al-Qur’an bukanlah suatu benda yang memerlukan tempat pindah dari atas ke bawah dalam arti haqiqi, lantaran Al-Qur’an mengandung kei’jazan (kekuatan yang melemahkan)’.
Menurut Az-Zarqani, penggunaan kata Nuzul dalam hal Nuzulul Qur’an dimaksudkan dalam pengertian secara majazi. Artinya sebagai suatu ungkapan yang tidak dipahami secara harfiah. Pengertian majazi bagi Nuzulul Qur’an adalah pemberitahuan mengenai Al-Qur’an dalam segala aspeknya.[1]



2.    Turunnya Al-Qur’an
Allah pertama kali menurunkan Al-Qur’an pada malam senin tangal 17 Ramadhan pada tahun ke 41 dari kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610 M.[2]
Ketetapan tanggal 17 Ramadhan sebagai tanggal mulai diturunkannya Al-Qur’an tidak terdapat secara tegas di dalam Al-Qur’an, namun ayat-ayat yang mengisyaratkan kepada tanggal tersebut dapat dijumpai disurah, Al-Anfal ayat 41:

Artinya: “Jika kamu beriman kepada Allah dan kpada apa yang kami turunkan kepada hamba kami (Muhammad) hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu.”( QS. Al-Anfal: 41)
Yang dimaksud dengan  yaum al-furqan pada ayat tersebut adalah hari permulaan turunnya Al-Qur’an. Disebut demikian, karena kitab suci tersebut berisi ajaran dan tuntunan hidup yang memisahkan antara yang benar danyang salah atau antara yang haq dan yang bathil. Adapun yang dimaksud dengan yaum iltaqa al-jam’an (hari bertemunya dua pasukan) ialah hari bertemunya dua pasukan yaitu pasukan kaum Muslim dan pasukan kaum musyrik Quraisy pada peperangan Badr. Mengingat peperangan Badr terjadi pada 17 Ramadhan, maka dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an juga diturunkan pada 17 Ramadhan pula.[3]
Adapun tentang diturunkannya Al-Qur’an pada bulan Ramadhan, adalah berdasarkan nash yang jelas yang terdapat dalam kitab Allah Azza wa Jalla, dimana Ia berfirman:

Artinya : “Bulan Ramdhan, bulan yang didalamnya diturunkan ( permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang bathil.”( QS. Al-Baqarah:183)[4]
            Sedangkan Malaikat yang turun membawa Al-Qur’an adalah Jibril AS. Sebagaimana telah ditetapkan pula dengan nash shoheh yang terdapat dalam Al-Qur’an, dimana Allah berfirman:

Artinya: “ Dia ( Al-Qur’an) dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril0 kedalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seoragng diantara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa arab yang jelas.”(QS. Asy-Syu’ara: 193-195)
            Dan firman Nya:

Artinya: “ katakanlah :” Ruhul Quddus (Jibril) menurunkan Al-Qur’an dari tuhan mu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta khabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah.” (QS. An-Nahl:102)
            Yang dimaksud dengan Ar-Ruhul Amin atau Ar-Ruh Al-Quddus ialah Jibril as. Berdasarkan sepakat ahli tafsir, dimana dia adalah yang diberi kepercayaan oleh Allah untuk mewahyukan Al-Qur’an kepada Rosulullah saw. Dan dialah yang menyampaikan wahyu kepada segenap para Nabi dan Rosul (sebelum Muhammad s.a.w).[5]


3.    Wahyu Pertama di Turunkan
Iman As-Suyuti dalam kitab Al-Itqan mencatat beberapa pendapat tentang ayat yang pertama kali turun. Ada yang mengatakan “Basmalah”, ada yang mengatakan “Al-Fatihah”, namun yang paling shahih ialah surah Al-Alaq : 1-5.[6]
Pendapat yang pertama, mengatakan bahwa yang pertama kali diturunkan dari Al-Qur’an adala “Bismillahirrahmaanirrahiim”.
Imam Al-Wahidi mengeluarkan sebuah riwayat dengan sanadnya dari Ikrimah dan Hasan, keduanya berkata, “Pertama kali yang diturunkan dari Al-Qur’an adalah  Bismillaahirrahmaanirrahim” dan awal surah “Iqra bismi rabbik”.
Ibnu Jarir ath-Thabari dan lainnya juga mengeluarkan sebuah riwayat melalui adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas ra, ia berkata, “Pertama kali yang dibawa turun oleh Jibril as. Kepada Nabi Muhammad saw. Adalah perkataan Jibril ‘Ya Muhammad !, mohonlah perlindungan ( kepada Allah ), kemudian katakan ‘Bismillahirrahmaanirrahim’.”
Menurut Imam Sayuti : sesungguhnya pada dasarnya ini tidak dianggap pendapat, karena sudah barang tentukonsekuensinya turunnya suatu surah adalah turunnya ‘basmalah’ bersama surah itu, maka ia merupakan ayat yang pertama kali turun secara mutlak.[7]
Selain pendapat tersebut, ada pula pendapat lain yang menyatakan bahwa surah Al-Fatihahlah sebenarnya yang pertama kali diturunkan. Syaikh Muhammad Abduh menguatkan pendapat tersebut dengan tiga alasan. Pertama, surah Al-Fatihah terletak pad permulaan Al-Qur’an. Kedua, seluruh isi surah Al-Qur’an tersimpul dalam surah Al-Fatihah. Ketiga, menurut riwayat yang diceritakan kembali oleh Al-Baihaqi dalam Dalail Nubuwah, ternyata surah Al-Fatihah pula yang disebut sebagai yang pertama kali diturunkan.[8]
Sedangkan, menurut pendapat yang terkuat dan riwayat yang sahih, firman Allah yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw adalah firman-Nya di surah Al-Alaq : 1-5 :

Artinya : “Bacalah dengan ( menyebut ) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum pernah ia ketahui.” (QS. Al-Alaq :1-5)
            Ayat tersebut diturunkan ketika Nabi Muhammad saw sedang menyendiri dan beribadah  di sebuah gua yang bernama Gua Hira yang terdapat di Jabal Nur, kira-kira tiga mil dari Mekah. Menurut Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah ra. Bahwa Nabi Muhammad saw sering mengunjungi Gua Hira ini dan menyendiri serta beribadah disana selama beberapa malam. Untuk lancarnya kegiatan beliau, beliau selalu membawa bekal. Apabila bekal tersebut habis, beliau kembali kepada Khadijah, yang kemudian memberikan bekal lagi seperti biasa. Pada suatu waktu ketika beliau sedang berada di Gua Hira tersebut, tiba-tiba Jibril datang dan berkata kepada beliau, “Bacalah, hai Muhammad.” Nabi menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Nabi kemudian menceritakan bahwa malaikat itu merangkul dan memelukku sampai aku betul-betul keletihan, kemudian aku dilepaskannya dan ia berkata lagi kepadaku,”Bacalah.” Aku menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Aku direngkul dan dipeluknya lagi  untuk kedua kalinya sampai aku merasa letih, baru kemudian ia melepaskan aku dan berkata lagi kepadaku, “Bacalah”. Aku menjawab,”Aku tidak bisa membaca”. Aku dirangkul dan dipeluknya lagi untuk ketiga kalinya, lalu dilepaskannya seraya berkata, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum pernah ia ketahui.” Setelah itu Nabi kembali menemui Khadijah dengan hati yang takut dan gemetar.
            Peristiwa bersejarah ini terjadi pada malam Senin, tanggal 17 Ramadhan tahun ke 41 dari usia Nabi Muhammad saw atau 13 tahun sebelum beliau berhijrah ke Madinah, bertepatan dengan bulan Juli tahun 610 H.[9]

4.    Wahyu Terakhir di Turunkan
Kebanyakan ulama menetapkan bahwa hari penghabisan turunnya Al-Qur’an, ialah hari Jum’at  9 Dzulhijjah tahun 10 H, atau tahun 63 dari kelahiran Nabi Muhammad saw ( Maret 632 M ).
Pada saat itu Nabi sedang berwukuf di padang Arafah dalam menyelenggarakan haji yang terkenal dengan Haji Wada’. Kebanyakan ulama tafsir menetapkan bahwa sesudah hari itu tak ada lagi Al-Qur’an diturunkan untuk menerangkan hukum dan Nabipun hidup sesudahnya selama 81 malam saja lagi. Ahli tarikh menetapkan bahwa Nabi kita hidup sesudahnya selama 3 bulan lebih kurang. Sebagaimana diketahui bahwa Rasulullah wafat pada tanggal 12 Rabiul awal tahun 11 H, hari Senin = 7 Juni 632 M.[10]

Menurut riwayat yang terkuat, ayat Al-Qur’an yang terakhir sekali diturunkan adalah ayat ketiga dari surah Al-Maidah :

Artinya : “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadam, dan Aku relakan Islam itu adalah agama untukmu.”
            Menurut riwayat diatas, ayat terakhir tersebut diturunkan ketika Nabi Muhammad saw bersama para sahabat sedang wukuf di Arafah dalam rangka melaksanakan ibadah haji terakhir (haji wada ) pada hari Jum’at, tanggal 9 Zulhijjah tahun ke-10 H atau tahun ke-63 dari usia beliau. Delapan puluh satu setelah malam itu, Nabi pun wafat.[11]

B.  TAHAP WAKTU dan CARA TURUNNYA WAHYU
Wahyu menurut arti aslinya yaitu isyarat yang cepat (al-isyarat al-syariah) yang dimasukkan kedalam hati seseorang (al-ilqa fi raw’i). Adapun yang dimasukkan ke dalam hati itu tidak dalam bentuk verbal, tetapi berupa pengertian yang bebas dari keraguan dan kesulitan serta bukan pula merupakan hasil meditasi atau perenungan.[12]
Adapun yang dimaksud dengan wahyu menurut terminologi syar’i, para ulama berbeda pendapat dalam merumuskannya. Definisi yang terpanjang menyatakan bahwa wahyu itu adalah Allah memberitahukan kepada orang yang terpilih dari hamba-hamba-Nya setiap apa saja dari berbagai macam petunjuk dan ilmu yang ingin Dia beritahukan kepadanya, namun dengan cara yang rahasia dan tersembunyi serta tidak mengikuti cara yang biasa dilakukan manusia.[13]
Imam Al-Zuhri pernah ditanya tentang wahyu, kemudian ia menjawab: “wahyu ialah kalam Allah yang disampaikan kepada salah seorang Nabi-Nya kemudian dikukuhkan-Nya kedalam hatinya; lalu dia menyatakan bahwa itu adalah wahyu dan ditulisnya.”[14]
1.    Tahap Waktu Turunnya Wahyu
          Proses turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW adalah melalui tiga tahap yaitu:
            Pertama, Al-Qur’an turun secara sekaligus dari Allah ke lauh Al-mahfuzh, yaitu suatu tempat yang merupakan catatan tentang segala ketentuan dan kepastian Allah. Proses pertama ini di isyaratkan dalam QS. Al-Buruj(85) ayat 21-22:

Artinya : “Bahkan yang didustakan mereka ialah Al-Qur’an yang mulia. Yang (tersimpan) dalam lauh al-mahfuzh”.(QS. Al-Buruj :21-22)
            Diisyaratkan pula oleh firman Allah surat Al-Waqi’ah (56) ayat 77-80:

Artinya : “Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (lauh mahfuzh), tidak menyentuhnya, kecuali hamba-hamba yang di sucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam.”( QS. Al-Waqi’ah:77:80)
            Tahap kedua, Al-Qur’an diturunkan dari lauh al-mahfuzh itu kebait al-izzah (tempat yang berada dilangit dunia). Proses ini diisyaratkan Allah dalam surah Al-Qadar [97]: 1

Artinya :”sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.”(QS. Al-Qadar:1)
            Juga diisyratkan dalam QS. Surat Ad-Dukhan [44] ayat 3

Artinya: “ sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya kami lah yang memberi peringatan.”( QS. Ad-Dukhan:3)
            Tahap ketiga, Al-Qur’an diturunkan dari bait al-izzah kedalam hati Nabi dengan jalan berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan. Ada kalanya satu ayat, dua ayat, dan bahkan kadang-kadang satu surat.[15]

            Selain itu, menurut Syaikh Al-Khudlari dalam bukunya, Tarikh Tasyi, masa turunnya Al-Qur’an yang dimulai dari tanggal 17 Ramadhan tahun ke-41 dari kelahiran Nabi Muhammad saw hingga akhir turunnya ayat pada 9 Zulhijjah tahun ke-63 dari usia beliau, tidak kurang dari 22 tahun 2 bulan 22 hari. Masa ini kemudian dibagi oleh para ulama menjadi dua periode yaitu periode Mekkah dan periode Madinah.
            Periode Mekkah dimulai ketika Nabi Muhammad saw pertama kali menerima ayat-ayat Al-Qur’an pada 17 Ramadhan,tahun ke-41 dari kelahiran beliau hingga awal Rabiul Awal tahun ke-54 dari kelahiran beliau, yaitu sewaktu beliau akan berhijrah meninggalkan Mekkah menuju Madinah.
            Periode Madinah dimulai sejak Nabi Muhammad saw berhijrah ke Madinah dan menetap disana sampai dengan turunnya ayat terakhir pada 9 Zulhijjah tahun ke-63 dari kelahiran beliau. Dengan demikian, periode Mekkah selama12 tahun 5 bulan 13 hari dan periode Madinah  selama 9 tahun 9 bulan 9 hari.[16]
2.    Cara Turunnya Wahyu
Nabi Muhammad saw telah menerima kalam Allah melalui tiga cara. Cara yang pertama, adakalanya beliau alami melalui ilham dikala beliau dalam keadaan jaga. Setelah beliau menerimanya, beliau dapat mengingatnya dengan tepat. Pengalaman beliau dalam menerima kalam Allah melalui cara yang pertama dan melalui ilham tersebut telah diriwayatkan dalam hadis berikut ini, “Sesungguhnya Ruh al-Qudus (Jibril) telah menuangkan kedalam hatiku bahwa seseorang tidak akan mati sampai rejekinya sempurna; karena itu, bertakwalah kalian kepada Allah dan berbuat eloklah kamu dalam mencarinya.”
Disamping itu, Rasulullah saw juga pernah menerima kalam Allah melalui cara yang pertama, namun pada waktu tidur, bukan pada waktu jaga. Pengalaman beliau yang seperti itu telah diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra sebagai berikut, “Pertama kali Rasulullah saw  menerima wahyu adalah mimpi yang benar ketika tidur. Beliau tidak melihat mimpi itu, kecuali datang seperti cahaya shubuh.
Cara kedua, menurut riwayat hanya sekali pernah dialami Rasulullah saw, yaitu ketika mi’raj, beliau telah menerima perintah untuk melaksanakan shalat fardhu lima waktu dari Allah secara langsung, tanpa perantaraan Jibril.
Cara ketiga, adalah cara yang cukup sering dialami oleh Rasulullah saw. Cara ketiga ini adakalanya Jibril menyampaikan makna (ide) yang terkandung dalam kalam Allah atau wahyu, kemudian beliau sendiri yang mengungkapkannya kepada kaum Muslim dengan lafal (redaksi) dari beliau; dan adakalanya pula Jibril langsung menyampaikan kalam Allah itu tidak hanya berupa makna (ide) yang terkandung didalamnya, tetapi sekaligus dengan lafalnya langsung dari Allah.
Cara yang tertinggi dari ketiga cara tersebut adalah cara yang terakhir. Sebab wahyu yang diturunkan dengan cara terakhir tersebut, hanya untuk para nabi dan para rasul yang bertugas membawa risalah Allah. Adapun wahyu yang diturunkan dengan cara yang pertama dan kedua termasuk jenis wahyu yang lebih rendah kendatipun sifatnya langsung dari Allah SWT. Begitu pula wahyu yang diturunkan melalui Jibril, namun yang disampaikannya kepada Rasulullah saw hanya berupa makna. Sebab, wahyu dalam bentuk-bentuk tersebut dapat pula diberikan kepada orang-orang saleh yang bukan nabi dan rasul.[17]
3.    Hikmah Turunnya Al-Qur’an Secara Berangsur-angsur
a.       Memantapkan Hati Nabi
Ketika menyampaikan dakwah, Nabi sering berhadapan dengan para penentang. Turunnya wahyu yang berangsur-angsur itu merupakan dorongan tersendiri bagi Nabi untuk terus menyampaikan dakwah.
b.      Menentang dan Melemahkan Para Penentang Al-Qur’an
Nabi sering berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan sulit yang dilontarkan orang-oramg musyrik dengan tujuan melemahkan Nabi. Turunnya wahyu yag berangsur-angsur itu tidak saja menjawab pertanyaan itu, bahkan menentang mereka untuk membuat sesuatu yang serupa dengan Al-Qur’an. Dan ketika mereka tidak mampu memenuhi tantangan itu, hal itu sekaligus merupakan salah satu mukjizat Al-Qur’an.
c.       Memudahkan Untuk Dihafal dan Dipahami
Al-Qur’an pertama kali turun ditengah-tenah masyarakat Arab yang ummi, yakni yang tidak memiliki pengetahuan tentang bacaan dan tulisan. Turunny wahyu secara berangsu-angsur memudahkan mereka untuk memahami dan menghafal nya.

d.      Mengikuti setiap kejadiaan (yang karena nya ayat-ayat Al-Qur’an turun) dan melakukan penahapan dan penetapan syariat.
e.        Membuktikan dengan pasti bahwa Al-qur’an turun dari Allah yang Maha bijaksana.[18]














BAB III
PENUTUP
Simpulan



DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Zainal, Seluk Beluk Al-Qur’an,
Anwar, Rosihan, Ulumul Qur’an,
Ash-Shiddieqy, Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an / Tafsir,
As-Suyuti, Imam Jalaluddin, Studi Al-Qur’an Komprehensif,
Athaillah, Ahmad, Sejarah Al-Qur’an Verifikasi tentang Otentisitas Al-Qur’an,
Athaillah, Ahmad, Sejarah Al-Qur’an Verifikasi tentang Otentisitas Al-Qur’an,
Muchlas, Imam, Al-Qur’an Berbicara,
Shabany, Mohammad Aly Ash, Pengantar Study Al-Qur’an (At-Tibyan),
www.majalah-alkisah.com




[1]www.majalah-alkisah.com, download: 20 september 2013,  pukul: 09.50 WITA
[2] Imam Mukhlas, Al-Qur’an Berbicara,(Surabaya: Pustaka Progressif, 1996), h. 29
[3]A. Athaillah, Sejarah Al-Qur’an, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), h.134
[4]Mohammad  Aly Ash Shabuny, Pengantar Study Al-Qur’an ( At-Tibyan), ( Bandung: Alma’arif, 1996), h.28
[5]Mohammad  Aly Ash Shabuny, Pengantar Study Al-Qur’an ( At-Tibyan), ( Bandung: Alma’arif, 1996), h.28

[6] Imam Muchlas,  Al-Qur’an Berbicara, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1996), h.29
[7] Imam Jalaludin As-Suyuti, Studi Al-Qur’an Komprehensif, (Surakarta: Indiva Pustaka, 2008), h.107
[8] A. Athaillah, Sejarah Al-Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), h.136
[9]Ibid, h. 132-134.
[10] T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an / Tafsir, (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), h.53
[11] A. Athaillah, Sejarah Al-Qur’an Verifikasi  tentang Otentisitas Al-Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), h.140.
[12] A. Athaillah, Sejarah Al-Qur’an Verifikasi  tentang Otentisitas Al-Qur’an, (Banjarmasin: Antasari Press, 2006), h.58
[13] A. Athaillah, Sejarah Al-Qur’an Verifikasi tentang Otentisitas Al-Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), h. 114-115
[14] Zainal Abidin, Seluk Beluk  Al-Qur’an, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), h.69
[15] Rosihan Anwar, Ulumul Qur’an,
[16]A. Athaillah, Sejarah Al-Qur’an Verifikasi tentang Otentisitas Al-Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), h.143-144.
[17]A. Athaillah, Sejarah Al-Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2010), h. 116-118.
[18]Rosihan Anwar, Ulumul Qur’an, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), h.36.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar